Imigras Madiun Deportasi WN Myanmar

Khin Maung Than warga negara Myanmar saat berada di ruang rendenim Kantor Imigrasi Kelas II Madiun, jelang dideportasi. foto : kanal ponorogo
Khin Maung Than warga negara Myanmar saat berada di ruang rendenim Kantor Imigrasi Kelas II Madiun, jelang dideportasi. foto : kanal ponorogo

KANALMADIUN-Kantor Imigrasi Kelas II Madiun mendeportasi Khin Maung Than warga negara Myanmar, karena ijin tinggalnya melebihi batas waktu (over stay) selama 44 hari.

“Kami saat melakukan pengawasan di Kabupaten Ngawi, dari Sat Intelkam Polres Ngawi, ada pria asing di Desa Gerih, Kecamatan Geneng. Pria asing itu diinformasikan asal Myanmar, atas laporan itu langsung kami tindak lanjuti,” jelas Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Madiun, Kamis (28/1).

Ia mengatakan begitu petugas Imigrasi Kelas II Madiun bergerak menuju Desa Gerih, mendapat kontak dari Sat Intelkam Polres Ngawi, bersangkutan diamankan di Mapolres Ngawi. Selanjutnya, petugas menuju Polres Ngawi dan melakukan pemeriksaan dokumen. Pria diketahui Kuin Maung Than, kelahiran 5 Januari 1966 asal Myanmar, memiliki visa kunjungan berlaku hingga 6 Desember 2015. Bersangkutan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten, 7 November 2015 lalu.

Memiliki paspor masih berlaku dengan nomor MA695747, diketahui ijin tinggal melebihi batas, bersangkutan langsung dibawa ke Kantor Imigrasi Kelas II Madiun untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hasilnya, bersangkutan ijin tinggalnya melebihi 44 hari, sesuai aturan bersangkutan harus membayar denda sebesar Rp 15 juta. Setelah membayar, bersangkutan ditahan sementara di ruang rendemin, hari ini langsung di deportasi dari Bandara Adi Soemarmo Solo, lalu ke Bandara Soekarno-Hatta diteruskan ke Myanmar.

Menurutnya ada kejanggalan menyangkut identitas dari Presidium Pusat Reclasseering Indonesia (PPRI) berlogo garuda dan merah-putih dan Kartu Tanda Anggota (KTA) PPRI.

“Jelas janggal, warga negara asing memiliki hal itu. Kami akan lakukan penelusuran lembaga itu, diakui bersangkutan sebagai lembaga sosial. Kepada petugas Polres Ngawi dan Imigrasi, saat diperiksa mengakui tinggal di Desa Gerih selama 6 hari dan tinggal di rumah kenalan,” ujar Sigit.

Namun, ketika ditanya wartawan dalam Bahasa Inggris, Khin mengaku tinggal di Desa Gerih selama 2 minggu.

“Saya sudah 2 minggu tinggal di desa itu, untuk keperluan survey dari lembaga berpusat di Bandung, lembaga itu lembaga sosial atau bukan lembaga asing. Soal ijin tinggal melebihi batas waktu, saya akui lupa memperpanjang, sebab terlalu fokus pada kesibukan,” ujarnya.

Menurutnya jauh hari sudah melakukan kontak dengan Lembaga PPRI, agar dibantu pengurusan perpanjangan visa. Tapi, pengurus PPRI sendiri agaknya juga larut dalam kesibukan berorganisasi, atas kondisi seperti itu saya hanya bisa pasrah, jika dideportasi. Saya tidak melakukan tindakan kriminal, selama di Indonesia juga tidak melakukan kegiatan melawan hukum,” ujar Khin.(ab/kanalponorogo)

LEAVE A REPLY