Duka Keluarga Penghapal Al Quran

Disadur sesuai tulisan asli dari Ustadz Rohmadi, M.P.I
Wadir Ma’had Aliy Al Furqon

NGEBEL: Sudah jatuh ketiban tangga, itulah peribahasa yg sesuai dengan keadaan Didik Prianto, santri Tahfizh di Ma’had ‘Aliy Al Furqon Ponorogo. Pasalnya, belum selesai dia membuat anyaman bambu sedapatnya untuk menutup lobang lobang dinding rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu (gedhek) pada saat liburan Romadhon lalu, ayahnya, Jemadi (54 thn) terkena lancupan (bekas potongan kayu) di kakinya.

Kemiskinan yang menderanya membuat tak berani membawa ayahnya ke Rumah Sakit atau Puskesmas. Diam seribu bahasa, mata berkaca kaca dan kemudian pamitan berangkat ke Pesantren lagi untuk menyelesaikan hafalan al Quran. Padahal tentang dinding rumahnya yang lobang-lobang juga belum ada solusi. Dia hanya berani mengadukan nasibnya kepada Alloh, Sang Maha Pemurah.

Hari ini tetangganya memaksanya ke Puskesmas dengan biaya swadaya tetangga. Pak Jemadi pun dioperasi kakinya yg sudah bengkak sebulan lebih itu. Tetapi untuk biaya transportasi dan lain lain untuk kontrol ke puskesmas masih harus mendongak ke langit, memohon belas kasih Alloh Yang Maha Pemurah.

Didik Prianto pun pamit pulang hendak menengok Ayahnya yang sedang sakit. Dengan mata berkaca kaca dia bertanya, “Ustadz, apakah jika aku senantiasa menghapal al Quran Alloh akan membangunkan rumah orangtuaku di akhirat? Dan bisakah Alloh membangunkan rumah untuk kami di dunia?”
Aku pun kaget mendengar pertanyaanya, dengan agak gemetar aku menjawab, “Iya, Nak. Yakinlah Alloh akan membangunkan rumah di Surga dan di dunia. Pulanglah dengan senantiasa berharap pada Alloh.”

Dia pun pulang, tinggal aku sendiri berdialog dengan batin. Bagaimana aku bisa diam melihat anak yg sejak enam tahun lalu rela meninggalkan orang tuanya untuk menghapal al Quran dalam kesulitan yang sangat? Padahal al Quran adalah pembawa kebahagiaan, bagaimana anak ini hendak bahagia sementara rumahnya yang berukuran 3 x 5 meter dengan kondisi yang sangat tidak layak huni, dindingnya dari bambu jebol jebol, rumah yang sekaligus dapur dan kamar itu hendak bahagia dan tenang?

Bagaimana hendak tenang sementara ayahnya sakit, selain karena lancupan kadar gula bapaknya mencapai angka 500 dan tak ada lagi yang bekerja mencari tatal dari pohon pinus yang hanya seharga Rp. 2.500,_ per kresek/hari itu?

Saudaraku…
Apakah kita hendak mendiamkan keadaan ini? Apakah kita masih akan memotivasi orang untuk berjuang di jalan Alloh sementara keluarganya kita biarkan berantakan tanpa ada yang memikirkan? Apakah jawaban kita nanti di sisi Alloh jika ditanyakan tentang kemiskinan dan kesusahan keluarga penghapal al Quran ini, Padahal kita sudah sholat, sudah puasa, sudah zakat dan sudah Haji?

Tidak ada lagi, kecuali kita bersama-sama membantu biaya perawatan kesehatan ayahnya dan kita bangunkan rumah yang layak huni. Agar kita juga dibangunkan Alloh rumah di Surga bersama baginda Nabi Muhammad S.A.W.
Jazaakumulloh khoiron …!

Rohmadi, M.P.I
Wadir Ma’had Aliy Al Furqon

Mari bersedekah lagi …!
Cp : Ustadz Nur Rohim / 085 735 300 204

Rekening :
No rek : 171 00 024 7159 0 / Mandiri
No rek : 7430011289 / Bank Muamalat

a.n. Yayasan Insan Mulia Ponorogo

Bagi dermawan yang berniat membantu bisa disalurkan satu pintu melalui yayasan Insan Mulia

LEAVE A REPLY