Home / Hukrim / News / Peristiwa

Minggu, 27 Desember 2015 - 21:03 WIB - Editor : redaksi

Hajar Istri Hingga Babak Belur, Warga Jenangan Dibui

pelaku saat digelandang di Mapolres ponorogo foto : kanal ponorogo

KANALPONOROGO-Anggota Polsek Jenangan mengamankan TB (23) warga Desa Ngrupit, Kecamatan Jenangan lantaran dengan teganya melakukan pemukulan terhadap TD(31) istrinya yang baru dinikahinya 3 bulan yang lalu hingga babak belur, Minggu(27/12).

Tak hanya memukul dan menendang korban, pelaku juga mengancam akan membunuh istrinya dengan menempelkan ujung obeng ke leher istrinya.

“Karena ancaman ini, korban kemudian berteriak-teriak hingga para tetangga berdatangan. Setelah itu LD bersama perangkat Desa melapor ke Polsek Jenangan,” ungkap Kapolsek Jenangan AKP Soewito.

TB yang seorang pekerja proyek inipun kemudian diamankan dan untuk kepentingan pemeriksaan ia dititipkan di Rutan Ponorogo. Sedangkan LD masih dalam perawatan dan observasi di Puskesmas Jenangan karena masih mengeluh pusing.

Baca Juga :  Polres Ponorogo Tangkap Komplotan Pencuri Mobil

“Kalau tidak membaik, akan dikirim ke RSUD. Tapi untuk kepentingan penyidikan, luka-lukanya sudah kita visum,” terang AKP Soewito.

Sementara itu saat di Mapolres, kepada sejumlah wartawan, pelaku mengaku menghajar istrinya karena merasa jengkel dengan sikap istrinya yang katanya tidak mau menuruti perintahnya. Seperti sulit disuruh makan teratur, sulit disuruh menjaga kesehatan dan sebagainya.

“Saya cuma mukul tiga kali. Sekali di pipi kanan, sekali di pipi kiri, lalu kepala,” ujarnya.

Selain itu, saat di ruang penjagaan Polres Ponorogo dia  mengaku bernama Andianto dan menyebut istrinya bernama Sirum. TB juga mengaku jika dia warga Sukorejo dan istrinya asli Desa Ngrupit, Kecamatan Jenangan.

Baca Juga :  Kapolsek Pimpin Patroli Blusukan Pasar Tradisional Jaga Stabilitas Harga Bahan Pokok

“Biar takut saja, biar kapok. Saya jengkel, dia itu tidak nurut sama saya,” ungkapnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya, TB dijerat dengan pasal 44 ayat 1 dan 2 UU 23 tahun 2004. Untuk ayat 1 yang berisi aksi kekerasan ancamannya adalah pidana penjara maksimal selama lima tahun. Sedangkan untuk pasal 2 karena ada aksi melukai, ancaman hukumannya adalah penjara sampai 10 tahun.

“Kita tidak pakai soal percobaan pembunuhan. Kami terapkan lex specialisnya, yaitu KDRT-nya,” pungkas AKP Suwito.(wad/kanalponorogo)

Share :

Baca Juga

Headline

‘Let’s Go To Cinepolis’, Program CSR Cinepolis untuk Anak

Hukrim

Pengedar Pil Koplo Lintas Provinsi Ditangkap

Birokrasi

PNS Kemenag Ponorogo Masih Minim Lakukan PUPNS

Hukrim

Perlakukan Tak Senonoh Muridnya, Oknum Guru SD Dipolisikan

Mataraman

Festial Balon Udara Mampu Turunkan Peepasan Balon Udara liar

Peristiwa

Tabrakan Beruntun di Sukarno Hatta, Satu Orang Tewas di TKP

Headline

Pastikan Arus Mudik-Balik Kondusif, BPBD Provinsi Jawa Timur Kerahkan ‘Agen Bencana’

Mataraman

Waka Polres Ponorogo Cek Kesiapan Polsek Jajaran