Home / Ngawi

Rabu, 9 Maret 2016 - 09:29 WIB

Mitos Jawa, Saat Gerhana Matahari Anak-Anak Disembunyikan Dibawah Kolong

Anak-anak dibawah kolong ranjang saat gerhana matahari

KANALNGAWI- Mungkin bagi masyarakat yang berusia diatas 35 tahun pasti ingat terhadap fenomena Gerhana Matahari 1983 silam. Anggapan bahwa saat Gerhana Matahari tidak boleh keluar rumah adalah keliru. Dikatakan, Gerhana Matahari mengeluarkan radiasi berbahaya bagi tubuh, padahal faktanya tidak demikian.

Tetapi bagi masyarakat Jawa yang masih mempercayai adanya mitos unik tentang Gerhana Matahari yang erat kaitanya dengan Buto Ijo maupun Bathara Kala yang memakan habis sumber tata surya di alam ini. Tak pelak imbasnya pun sampai sekarang ini masih nyata dan berlaku, seperti sebagian masyarakat Desa Teguhan, Kecamatan Paron, Ngawi, Jawa Timur.

Baca Juga :  Warga Watualang Ajukan Keberatan Ganti Rugi Tanah Tol ke Pengadilan

Sejak pagi saat Gerhana Matahari mulai terjadi anak-anak lebih memilih bersembunyi dibawah kolong ranjang. Alasan mereka pun beragam, mulai takut kena paparan sinar matahari, takut kena omelan kedua orang tuanya akibat mitos turun temurun.

“Disuruh ibu katanya harus sembunyi dibawah sini agar tidak dimakan buto ijo. Kalau tidak menurut dimarahin lah,” terang Ipung seorang anak asal desa setempat, Rabu (09/03).

Tradisi kuat yang masih dipertahankan hingga kini ujar Wagimun, mendasar pengalaman Gerhana Matahari 1983. Sewaktu masih anak-anak dirinya mulai pagi sudah disembunyikan oleh kedua orang tuanya dibawah kolong ranjang. Bahkan makanan maupun minuman disediakan didekatnya sampai menunggu selesainya peristiwa gerhana.

Baca Juga :  Diknas Antisipasi Aliran Sesat Merambah Ke Sekolah

Tidak hanya itu katanya lagi, masyarakat wajib tinggal di rumah, menutup seluruh celah sinar matahari yang bisa masuk ke rumah, bahkan harus bersembunyi di kolong meja dan ranjang. Hewan-hewan piaraan baik ayam maupun kambing disiram abu sedangkan pohon pasti diketuk-ketuk.

Sementara itu Heru Eko Tjahjono Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi mengatakan, Melihat Gerhana Matahari memang bisa merusak mata, bahkan menyebabkan buta, namun bisa diakali dengan memakai kacamata berfilter matahari atau membuat proyeksi lubang jarum. Dengan kacamata berfilter matahari yang memiliki kerapatan optik 5 (neutral density 5) dapat meredam hingga 100.000 kali silau matahari, sehingga aman. (dik/kanalponorogo)

 

 

Share :

Baca Juga

Ngawi

Diduga Tidak Transparan, Peserta Ujian Perangkat Gruduk Balai Desa

Ngawi

Tinjau Tol Solo-Ngawi, Menteri PUPR Optimis Lebaran 2017 Bisa Operasi

Birokrasi

Dewan Desak Inspektorat Ngawi Segera Usut Kasus WG

Ngawi

Puluhan Miliar Dana DBHCHT Ngawi Tak Bisa Cair

Budaya

Ritual Budaya Kebo Ketan Di Alas Margo Ngawi

Ngawi

Diknas Ngawi Mulai Pecah Naskah UN

Ngawi

Alamak….Study Banding DPRD Ngawi Telan Setengah Miliar

Ngawi

Polres Ngawi Razia Balap Liar