Oleh: Putri Sabrina Andriani

Penulis adalah Mahasiswi aktif jurusan D4 Bisnis Perjalanan Wisata Universitas Gadjah Mada

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 mencatatkan kontraksi atau minus 3,49 persen secara tahunan hal ini diumumkan oleh BPS. Maknanya selama kurun waktu dua kuartal berturut – turut pertumbuhan domestic bruto ( PDB) Indonesia negatif. Sebelumnya pada kuartal II/2020 pertumbuhan ekonomi minus 5,32 persen. Sebelum BPS mengeluarkan data PDB, Presiden Jokowi telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ke III/2020 akan minus 3 persen. Dengan ini Presiden mengatakan Indonesia akan mengalami resesi ekonomi. Proyeksi Presiden  Jokowi pun jadi kenyataan.

Dilansir dari Wikipedia, resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika Produk domestik bruto ( PDB) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi bernilai negatif selama berbulan – bulan atau lebih dari 1 tahun. Resesi ini juga dapat mengakibatkan  penurunan secara serentak  pada seluruh aktivitas ekonomi seperti ketersediaan lapangan kerja, investasi dan keuntungan perusahaan.  Selain hal diatas resesi juga berdampak besar pada sektor pariwisata.

Resesi  berpotensi membuat sektor pariwisata melakukan pemutusan hubungan kerja ( PHK) terhadap pekerjanya.  Hal ini dikarenakan banyak pelaku usaha pariwisata yang beralih profesi dan menutup sementara operasional usahanya akibat dari pandemi COVID-19 . Bukan hanya ancaman PHK, terjadinya resesi mengakibatkan turunnya pendapatan nasional dan daerah, terlebih bagi daerah yang bergantung pada sektor pariwisata. Total kerugian yang dialami industri pariwisata Indonesia mencapai Rp 85,7 triliun hingga April 2020.

Menilik dari data organisasi pariwisata dunia (UNWTO) jumlah kunjungan wisatawan menurun 44 persen di seluruh dunia akibat dari pandemi jika dibandingkan dengan tahun lalu. Dalam sebuah rapat online pada bulan Oktober, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf), Hari  Santosa S , memprediksi wisatawan mancanegara ( wisman ) yang berkunjung ke Indonesia mentok di angka 4 juta orang .

Penurunan jumlah kunjungan ini berdampak pada pemasukan pelaku –  pelaku usaha pariwisata di daerah. Akan tetapi terus naiknya angka kasus positif  COVID-19 turut menjadi tantangan dalam memulihkan sektor pariwisata di Indonesia. Oleh karena itu Kemenparekraf telah menyiapkan berbagai kebijakan guna meringankan beban pelaku usaha dan dalam rangka meningkatkan perekonomian. Salah satunya adalah pemberian dana hibah . Pemberian dana hibah ini dipergunakan untuk meningkatkan pengimplementasian CHSE ( cleanliness, Healty, Safety, Environment Friendly )di daerah  untuk meningkatkan kesiapan dalam menerapkan protokol kesehatan guna menyiapkan  destinasi New Normal.

Akan tetapi penerapan destinasi new normal  menimbulkan polemik baru yakni bertambahnya biaya operasional guna mengadakan alat protokol kesehatan . Sedangkan  tidak adanya pengurangan pajak dan biaya listrik padahal pengurangan pengunjung sangat terasa di era pandemi ini.

Meskipun terdapat pro kontra dalam kebijakan pariwisata di era pandemi . Penerapan destinasi new normal sudah tepat karena bagaimanapun sektor pariwisata harus tetap berjalan agar roda perekonomian tetap berputar. Di era pandemi yang membatasi mobilitas manusia guna mencegah penyebaran virus , seharusnya pariwisata  lebih mengarah pada destinasi wisata yang fokus pada turis lokal dan dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan .Hal ini dimaksudkan agar pariwisata tetap berjalan sekaligus memberikan rasa aman pada wisatawan.

Penerapan destinasi new normal dengan penerapan protokol kesehatan dan pembatasan sosial diharapkan dapat memberikan angin segar bagi pelaku usaha wisata. Dibukanya kembali pariwisata di era New Normal tentunya meningkatkan perekonomian dengan harapan Indonesia bisa segera keluar dari jurang resesi . Menilik dari pergerakan aktif sektor pariwisata saat ini bukan tidak mungkin sektor pariwisata dapat menjadi penyelamat ekonomi Indonesia yang terpuruk kala pandemi.

- - -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here